• Divisi Geriatri Dep. Ilmu Penyakit Dalam FKUI/ RSCM, Jakarta Pusat 10430
  • geriatrilansia@gmail.com

Artikel

Indonesia Darurat Lansia dan Geriatri

Indonesia Darurat Lansia dan Geriatri

Siang dan malam terus berganti, mengiringi terbitnya mentari dan bulan. Iringan alam yang terus berputar menjadi makna tersirat akan kejadian alam yang telah ditentukan oleh sang pencipta alam semesta. Patah tumbuh hilang berganti, menjadi pepatah yang termaktup dalam nilai-nilai kehidupan akan makna arti manfaat hidup. Tangis bayi lahir yang membawa kebahagiaan dalam kehidupan, kadang melupakan masa tua yang akan menghampiri satu demi satu makhluk yang ada di muka bumi.

Berbicara hari tua, tentu akan membawa pikiran orang akan kehidupannya saat tua kelak. Usia tua yang lebih dikenal oleh masyarakat tanah air dengan kata-kata Lanjut Usia (Lansia), kadang menjadi sebuah mimpi buruk bagi sebagian orang. Bagaimana tidak, Lansia akan membawa setiap orang kepada keadaan kepayahan bak bayi yang tidak dapat berbuat banyak, terlebih bagi mereka yang membawa berbagai macam permasalahan kesehatan dalam tubuhnya akibat dari gaya hidup yang tidak sehat di masa lalu. Inilah yang disebut Geriatri, kata yang mungkin sedikit asing di telingan masyarakat tanah air.

Guna membahas tentang apa itu Lansia dan Geriatri, Redaksi geriatrilansia.com  memaparkan hasil wawancara dengan Ketua Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia Pergami Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD-KGER, MEpid, FINASI, berikut petikannya.

Redaksi (R)

Apa yang dimaksud dengan Geriatri dan Lansia ?

Prof. DR. dr. Siti Setiati (Prof. SS)

Dalam istilah dunia kedokteran  Geriatri merupakan suatu istilah yang terdiri dari kata gerontos yang artinya usia lanjut dan iatros yang artinya penyakit. Jadi sebenarnya yang dimaksud dengan geriatri adalah bagian dari dunia kedoteran yang mempelajari kesehatan penyakit-penyakit pada usia lanjut. Dalam ilmu kedokteran Geriatri khusus mempelajari berbagai masalah kesehatan, penyakit-penyakit orang yang berusia lanjut. Tetapi di sisi lain juga geriatri bisa dimaknai sebagai karakteristik pasien tua yang memiliki berbagai macam penyakit. Pasien Geriatri itu adalah pasien usia lanjut yang memiliki berbagai ciri khas. Misalnya penyakitnya banyak. Jadi pasien-pasien usia lanjut yang masuk dalam golongan Geriatri yang memiliki berbagai macam permasalahan kesehatan dan masalah biopsikososial. Pasien Geriatri memiliki penyakit lebih dari satu penyakit, atau multi patologi.

Ada dua makna dalam kata Geriatri. Pertama adalah sebagai satu cabang dalam ilmu kedokteran yang fokus mempelajari ilmu kesehatan dan penyakit-penyakit pada usia lanjut tetapi jika disebut sebagai pasien Geriatri sudah pasti berusia lanjut dengan berbagai permasalahan kesehatan atau penyakit. Kedua, usia lanjut dengan Geriatri itu serupa tapi tak sama. Jika usia lanjut tidak dengan penyakit, tetapi orang yang masuk dalam golongan Geriatri adalah usia lanjut dengan berbagai penyakit.

Ada dua orang yang dikatakan Lansia, yakni Lansia karena usia kronologis dan Biologis. Menurut usia secara kronologis, usia 60 tahun masuk dalam usia tua di Indonesia, jika di luar negeri dikatakan tua setelah mencapai 65 tahun. Namun jika dilihat dari usia biologis kita bisa melihat, misalnya orang-orang yang mempunyai penyakit diabetes, walaupun usianya belum mencapai 60 tahun, namun usia 50 sudah terlihat sudah sangat tua, untuk itu perlu dibedakan usia kronologis dan biologis.

(R)

Bagaimana Mencirikan Lansia dengan Geriatri ?

(Prof. SS)

Lansia dengan geriatri memiliki ciri khas. Pasti sudah tua dan fungsi-fungsi tubuhnya sudah memiliki permasalahan. Untuk itu, cenderung karena fungsi tubuhnya berkurang banyak, menjadi menkonsumsi obat yang banyak. Kemudian juga sudah mengalami penurunan status fungsional. Status fungsional itu adalah kemampuan untuk melakukan aktivitas yang sehari-harinya sudah menurun. Lansia dengan geriatri yang status fungsionalnya menurun, cenderung tampilan dengan penyakitnya selalu tidak jelas. Ini yang sering terjadi keterlambatan dalam melakukan tata laksana dalam pengobatan. Ada infeksi badannya tidak panas, ada sakit jantung tidak nyeri dadanya, jadi cenderung memberikan tampilan yang samar-samar. Kalau dokter tidak terbiasa menghadapi pasien geriatri sering kali terlambat dalam penanganan.

Jadi deteksi berkala bagi para lansia itu penting sekali dilakukan, karena pengawasan terhadap lansia itu sangat penting sekali karena salah-salah sudah terlambat dalam penanganan.  Pasiennya depresi misalnya gak mau makan, kita anggap dia ngambek, padahal itu bagian dari infeksi.

Kalau pada usia muda, gejala infeksi cenderung mudah dikenali karena dibarengi dengan keadaaan suhu tubuh dan lainnya. Berbeda dengan orang lanjut usia yang cenderung tidak diketahui. Jadi memang perlu latihan untuk memahami, dan itu tidak mudah.

(R)

Bagaimana Sejarah Geriatri di Indonesia dan Dunia

 

(Prof. SS)

Dalam sejarahnya geriatri Indonesia dikatakan ketinggalan 30 tahun dari dunia luar karena usia harapan hidupnya beda. Ketika orang luar usianya mencapai 90 tahunan, di Indonesia usianya baru sekitar 60 tahun. Di dunia luar pada tahun 1996 saat saya menjalankan pendidikan, pandangan akan adanya panti-panti untuk para lansia sudah dipikirkan dan sudah dipersiapkan. Pada tahun 1909, Ignas Leo Vascher, yang berasal dari Amerika, mengenalkan disiplin ilmu kedokteran yang menekankan pencegahan, ,mendiaknosis dan memberikan pengobatan pada pasien usia lanjut.

Kemudian pada dokter perempuan Marjori Warren 1935, perintis ilmu Geriatri mulai melakukan treatment, latihan jasmani secara sistematis. Hari Lanjut Usia Internasional yang jatuh pada 1 Oktober, berasal dari resolusi PBB, yang dilaksanakan pada 14 desember 1990 awal dari pertemuan Viena Internasional Plane, di wina tahun 1982.

Untuk di Indonesia sebenarnya dari tahun 1965 sudah ada upaya meningkatkan kesejahteraan warga lanjut usia, melalui Undang-undang tentang pemberian kehidupan bagi orang jompo. Pemerintah sebenarnya sudah memberikan perhatian pada tahun 1989. Melalui Mentri Koordinator Kesejahteraan Rakyat membentuk kelompok kerja tetap kesejahteraan lansia, pada 29 Mei 1996. Akhirnya presiden Soeharto meresmikan 29 Mei sebagai Hari Lanjut Usia di Indoneisa yang diresmikan di Semarang. Tanggal itu dipilih untuk mengenang Rajiman, seorang yang telah berjasa dalam persiapan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

(R)

Bagaimana dengan Pergemi ?

(Prof. SS)

Pada tahun 1997 kami mulai mengembangkan dan bentuk Pergemi, setelah mendapatkan pendidikan di Australia tentang permasalahan Lansia.

Nah kongres kita, para ahli penyakit dalam pada tahun 1996 membentuk Pergemi. Satu perhimpunan yang mewadahi keseminatan para dokter dan dokter spesialis yang memiliki interest terhadap Geriatri. Tahun 1998 ada undang-undang Nomor 13, tentang kesejahteraan lansia yang memberikan payung hukum serta perlindungan Negara terhadap warga usia lanjut. Ini member semangat kita dalam hal member pelayanan bagi para Lansia dan Geriatri. Kemudian dibentuklah komnas lansia tahun 2004 yang bertugas untuk mengkoordinir semua usaha-usaha kesejahteraan lansia. Kalau terkait dengan dunia kedokteraan, Pergemi dibentuk, di dalamnya adalah dokter dan spesialis yang memiliki minat dan konsern terhadap permasalahan lansia. Kami ini konsultan Geriatri yang mengurusi lansia.

(R)

Bagaimana Perkembangan Geriatri dan Lansia di Tanah air ?

(Prof. SS)

Itulah sebenarnya yang menimbulkan keprihatinan. Sains of urgensi masyarakat Indonesia termasuk pemerintah menurut saya kurang terhadap berbagai permasalahan, bukan hanya permasalahan lansia. Kita sudah lama membicarakan lansia, dan ini bisa menjadi bom waktu pemerintah karena akan terus bertambah dengan segala macam permasalahannya. Penyelesaian masalah cenderung selalu sektoral atau masing-masing disiplin atau masing-masing institusi membuat sendiri. Tidak pernah ada payung yang besar secara komprehensif menaungi permasalahan-permasalahan yang ada khususnya Lansia.

Kalau bicara soal permasalahan kesehatan lansia, baik factor kehidupannya, aktivitasnya tidak bisa hanya sektor kesehatansaja, semua harus ikut andil. Kesehatan iya, sosial iya, termasuk mungkin perhubungannya, pariwisata sehingga harus membuat sistem yang baik. Misalnya, bagaimana membuat sistem perumahan untuk lansia, bagaimana fasilitas umum yang ramah lansia, bagaimana rumah sakit yang ramah dengan lansia, itu semua harus dipikirkan. Menurut saya itu mudah, tinggal lihat keluar. Di Jepang bagus, Belanda bagus dan lain sebagainya. Kalau jalan-jalan jangan hanya jalan-jalan saja, tetapi lihat bagaimana sistem penanggulangan khususnya untuk lansia bisa dikembangkan di tanah air. Jadi kita teriak-teriak sudah lama, kerja hanya ada proyek. Gak ada satu program jangka panjang dan benar-benar dikuti.

Saat ini orang tua sudah semakin banyak, sudah 27 tahun dan sekitar 8% lebih jumlah orang tua di Indonesia dan Indonesia sudah masuk dalam Negara Aging Society, di mana satu diantara lima adalah orang tua. Apa yang bisa dipersiapkan, baik itu masalah kesehatannya, ekonominya, perumahan dan sebagainya. Dan harus konsep yang jelas dan harus komprehensif terintegrasi antara satu institusi dan lain. Sekali lagi masalahnya bukan hanya kesehatannya saja, tetapi masalah ekonominya sangat kental.

Saya sendiri merasakan orang tua masih sulit untuk melakukan pengobatan. Multi disiplin dan lintas disiplin dan itu harus ada yang memiliki konsep dan kemudian menjalankan konsep tersebut.

Makanya tahun 1997 saya teriak-teriak seharusnya Negara ini sudah membereskan para lansia tapi belum didengarkan. Coba lihat sekarang, orang tua dan permasalahan orang tua semakin banyak dan masalahnya semakin komplek, sekarang baru terasa.

Kita telat bagaimana sebetulnya pelayanan kesehatan yang terbaik untuk para lansia. Kita selalau ketinggalan langkahnya. Selalu reaktif. Menurut saya memang sistem kesehatan harus dibangun dengan baik. Layanan kesehatan seharusnya dilakukan dengan baik, dan ini merupakan tabungan kita. Melihat dari Negara lain, mereka punya panti saran untuk lansia, kota yang ramah untuk lansia, transportasi dan lain sebagainya sudah dipersiapkan, ini yang sudah saya bicarakan dari tahun 1996.

(R)

Yang perlu dilakukan untuk pasien-pasien Geriatri ?

(Prof. SS)

Kalau kita lihat spectrumnya ada yang masih sangat sehat, tetapi sayangnya tidak banyak. Penelitian kami, memang bukan penilitian yang besar hanya melibatkan 400 orang saja, hanya sekitar 5% yang betul-betuk sehat. Yang sangat sakit sekitar 20%. Di tengah-tengah yang sudah kena penyakit diabetes namun terkendali dan sisanya 20% sudah berbaring dengan kondisi yang terpuruk. Masing-masing tentu berbeda pendekatannya.

Kalau masih sangat sehat tentu mencegah agar jangan jatuh sakit, jangan sampai jatuh pada kondisi yang buruk. Memang buat saya seharusnya exercise (latihan/olahraga) jangan sudah tua, tetapi dari muda dilakukan. Exercise dan nutrisi yang baik tentunya harus ada pengawasan perhatian yang cukup, ditambah lingkungannya agar mereka melakukan exercise dengan nyaman.

Untuk orang tua yang sudah ada penyakitnya tetapi masih bisa mandiri, tentunya harus dilakukan pengontrolan agar tidak sampai jatuh pada kondisi yang buruk tadi.

(R)

Yang perlu dilakukan untuk melakukan Latihan/olahraga ?

(Prof. SS)

Semua yang penting adalah edukasi kepada seluruh orang yang ada di sekitar. Edukasi harus diberikan dengan baik dan benar agar orang itu benar-benar paham. Kenapa harus dilakukan latihan, perlu makanan sehat dan itu seharusnya diatur oleh pemerintah.

Bagi individu makanan yang sehat tentunya dan latihan/olahraga bagi setiap orang minimal 30 menit dalam sehari. Seharusnya dari anak-anak sudah diperkenalkan, wajibkan olahraga. Jadi itu bukan sampingan tetapi olahraga itu harus dilakukan secara rutin hingga usia tua.

Di tingkat pemerintah atau masyarakat harus memberi ruang untuk para lansia dan kebijakan yang mendorong untuk melakukan latihan. Pemerintah bukan hanya sekedar memberi informasi saja tanpa ada action dalam peraturan yang dibuat.

(R)

Apa saja yang sudah dilakuka Pergemi ?

(Prof. SS)

Kami punya misi, yang memang kerjasama dalam melakukan program-program kegiatan dalam pelayanan untuk meningkatkan kesehatan kemandirian lansia. Intinya pelayanan, pendidikan dan research di bidang kesehatan lansia.

Kalau di bidang pelayanan tentu seperti yang kami lakukan sekarang, memberikan dan melayani pasien-pasien dengan memberikan layanan kesehatan baik di rumah sakit maupun di tempat praktek dan seterusnya karena itu merupakan tugas seorang dokter.

Dalam bidang pendidikan yang kami lakukan mendidik calon dokter, calon dokter spesialis untuk memahami bagaimana sebetulnya mereka memahami bagaimana sebetulnya mereka menagani pasien Geriatri, itu untuk di rumah sakit. Kalau di luar rumah sakit kami memberikan memberikan penyuluhan-penyuluhan dalam menjaga orang tua. Kami juga membantu puskesmas, pusat santunan keluara, medidik kader. Melakukan juga kombinasi audiensi dengan pemerintah untuk memberikan masukan-masukan terkait lansia.

Dalam bidang Research salah satunya dengan melakukan surveysurvey terkait perkembangan dan permasalahan Lansia dan Geriatri.

 

 

 

 

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar




Testimonial

Facebook

Twitter